Surabaya – Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Sri Untari Bisowarno, menilai rendahnya fokus belajar siswa menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) di Jawa Timur yang masih tergolong rendah.
Oleh karena itu, Sri Untari mendorong sekolah untuk melatih kemampuan fokus siswa sejak dini, salah satunya dengan membiasakan siswa untuk tenang dan diam sejenak sebelum memulai proses pembelajaran.
“Fokus itu bisa dilatih. Diam beberapa saat saja sudah mengajarkan konsentrasi kepada anak,” ujar Sri Untari di Surabaya, Rabu (7/1/2026).
Ia menyoroti rendahnya daya konsentrasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Berdasarkan pengamatannya, rata-rata fokus siswa hanya bertahan kurang dari 10 menit sebelum terdistraksi oleh hal lain.
“Padahal mata pelajaran seperti matematika dan IPA membutuhkan konsentrasi tinggi. Itu bukan pelajaran hafalan, tetapi pemahaman,” kata legislator asal daerah pemilihan Malang Raya tersebut.
Sri Untari juga menilai penggunaan telepon genggam di ruang kelas menjadi salah satu penyebab utama terganggunya fokus belajar siswa. Untuk itu, ia mengusulkan adanya pembatasan penggunaan ponsel selama jam pelajaran berlangsung.
“HP sebaiknya tidak dipakai di dalam kelas. Bisa dititipkan di depan kelas, lalu diambil kembali saat jam istirahat,” ujar politisi Fraksi PDI Perjuangan itu.
Lebih lanjut, Sri Untari mengungkapkan hasil temuannya saat melakukan sampling ke sejumlah sekolah di daerah pemilihan. Ia menilai kemampuan numerasi dasar siswa masih tergolong lemah.
“Saya sampling ke sekolah-sekolah. Perkalian sederhana saja masih membutuhkan waktu lama untuk berpikir,” ungkapnya.
Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kesabaran dan ketelatenan pendidik dalam mengajarkan konsep dasar kepada siswa.
“Metode belajar sekarang sebenarnya banyak. Ada buku, ada YouTube. Tapi kesabaran pendidik tetap menjadi kunci utama,” ujarnya.
Ia juga menilai rendahnya motivasi belajar sebagian siswa dipengaruhi oleh anggapan bahwa TKA tidak menentukan kelulusan, berbeda dengan Ujian Nasional pada masa sebelumnya. Pola pikir tersebut, menurutnya, perlu menjadi bahan evaluasi bersama.
Sri Untari menegaskan bahwa persoalan rendahnya hasil TKA harus menjadi perhatian seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, sekolah, pendidik, hingga orang tua.
“Ayo kita telaah bersama kenapa kondisi generasi kita bisa seperti ini. Evaluasi menyeluruh itu yang paling penting agar kualitas pendidikan Jawa Timur bisa terus diperbaiki,” pungkasnya.









